Rabu, 03 Juli 2013
rasa kecewa
Selasa, 23 Oktober 2012
Langkah
Aku memang sering terjatuh.
Namun kaki ini masih bisa berdiri.
Meskipun perlahan
Meskipun sedikit gontai
Tapi aku yakin kaki ini kuat untuk tetap melangkah,
Melangkah menuju terang dan
Keluar dari gelap yang mulai mencekam.
Padanya aku bersimpuh
Meskipun bisikan bisikan itu mulai menggoyahkan
Namun keyakinan teguh membuatku tetap berada dalam jalur
Membuatku tetap bertahan
Sabtu, 20 Oktober 2012
Jadilah seorang wanita!
Wanita tidak lagi hanya menggunakan perasaannya untuk hidup. Dia hidup dengan logika dan perasaannya.
Aku? Aku hidup dengan logika dan menyampingkan perasaan. Kenapa? Terlalu berperasaan, terlalu sakit, dan gampang di permainkan.
Benarkan?
Jadilah bijak.
Jangan menjadi seorang perempuan yang begitu lemah, tapi jadilah wanita lembut. Jangan jadi perempuan cengeng yang hanya bisa mengeluh dan menangis. Jadilah wanita kuat yang tetap elegan meskipun hatinya sedang rapuh. Itu bukan munafik, tapi penyembuhan.
Tidakkah kalian perempuan muak harus menangisi segala hal secara berlebihan? Kalian tidak muak harus terlihat menyedihkan di depan seseorang yang telah menyakiti kalian?
Harusnya kalian besyukur, tuhan telah menunjukan, bahwa mereka memang bukan yang terbaik untuk kalian.
Dewasalah. Dan jangan memandang segala hal dengan perasaan. Jadilah wanita dewasa yang bisa berdiri diatas kakinya sendiri meskipun sakit di hati mencoba merapuhkan kalian
Sabtu, 13 Oktober 2012
I Love Raining
Sabtu, 22 September 2012
Sabtu, 25 Agustus 2012
Dirimu dan Dirinya.
"maafkan aku. aku tidak bermaksud menduakanmu va!"
"Omong kosong! kau pikir aku akan percaya setelah apa yang kau lakukan padaku? aku bodoh karena termakan omongan busukmu itu!"
pria itu menatapnya dengan rasa bersalah. ia lalu menarik tangan Reva dan menggenggamnya dengan erat. menyatakan bahwa dia sangat menyesal.
namun dengan kasar Reva menepis tangan itu. Amarahnya memuncak dan emosinya tidak terkendali lagi .
"Va. aku mohon. aku menyesal." Pria itu berkata dengan suara bergetar dan matanya berkaca-kaca. Reva hampir melemah namun amarahnya lebih besar saat ini.
"Jangan bicara lagi! kau membuatku muak! cukup sampai disini. seharusnya dari awal aku percaya pada omongan Dinar ketimbang mempercayaimu."
"Va,., aku menyayangimu sungguh. tidak ada orang lain dihatiku selain kamu.."
"sudah cukup kubilang! kita selesai.. jangan pernah muncul dihadapanku lagi."
Reva melangkahkan kakinya dengan lebar dan amarah yang masih menyelimuti hatinya. ia berusaha menahan air matanya yang sejak tadi mendesak untuk keluar. ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan pria brengsek itu.!
Kalau saja tadi ia tidak mengikuti kemana pria brengsek itu pergi, ia tidak akan pernah tahu kebohongan busuknya. Dengan kedua matanya sendiri ia melihat pria yang selama ini ia cintai bersama seseorang yang juga telah dianggapnya sebagai orang yang penting dengan mesranya melakukan sesuatu yang membuatnya ingin muntah.
hatinya begitu hancur dan membuatnya sangat marah.